Donor Darah Dalam Rangka HUT Persit Ke-64 dan HUT Dharma Pertiwi Ke-46

Rabu, 07 April 2010

Bismillahirrahmanirrahim; 


Dalam rangka memperingati HUT ke-64 Persit Kartika Chandra Kirana dan HUT ke-46 Dharma Pertiwi Tahun 2010 dilaksanakan kegiatan donor darah yang diselengarakan bertempat di RST Supraoen pada hari Rabu (7/4/2010).
Kegiatan yang dilaksanakan ini sebagai wujud kepedulian Keluarga Besar Persit Kartika Chandra Kirana dan Dharma Pertiwi terhadap masalah kemanusiaan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan darah bagi warga masyarakat yang memerlukan. Disadari bahwa setetes darah yang disumbangkan merupakan nyawa bagi orang lain. Sebagaimana diketahui bahwa dari waktu ke waktu permintaan warga masyarakat terhadap darah cenderung meningkat, sehingga diperlukan pendonor-pendonor aktif guna menjamin ketersediaan darah. Terlebih pada situasi dimana menjangkitnya suatu penyakit seperti Demam Berdarah, maka kebutuhan darah akan cenderung naik secara drastis.



Dengan adanya kegiatan tersebut, maka diharapkan bahwa kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Persit seperti halnya kegiatan donor darah merupakan wujud keinginan anggota Persit dan Dharma Pertiwi untuk meningkatkan rasa kesetiakawanan sosial dan bentuk kepedulian istri prajurit terhadap masyarakat. Disamping itu saya mengharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat menjadi ajang untuk mempertebal rasa kepedulian dan tolong menolong antarsesama. Insya Allah ...Amin YRA

Wassalam 
Kartini Hadi Santoso

Sosialisasi Pembentukan Organisasi Persit Kartika Chandra Kirana di Satuan Sub Denpom

Jumat, 02 April 2010


Bismillharirrahmanirrahim; 

Menindaklanjuti karya tulis yang saya buat dengan berjudul "Konsepsi Pembentukan Organisasi Persit Kartika Chandra Kirana Sub Anak Ranting Di Satuan Sub Denpom Dalam Rangka Meningkatkan Profesionalisme dan Kinerja Anggota Persit Di Wilayah". Maka pada bulan awal bulan Februari yang lalu telah diselenggarakan kegiatan tatap muka Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XIX Puspomad PG Mabesad dengan Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Ranting 5 Pom Se Indonesia dan Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Anak Ranting 5 Pom Se-Jawa Tahun 2010. 

Inti dari kegiatan tersebut adalah, Ibu Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XIX Puspomad PG Mabesad telah berupaya mensosialisasikan kepada seluruh anggota yang berada di bawah naungannya untuk segera membawa permasalahan mengenai pembentukan Sub Anak Ranting ini pada saat rapat kerja daerah, sehingga diharapkan usulan atas permasalahan ini dapat dijadikan bahan pertimbangan selanjutnya dan dapat terealisasi.

Besar tentunya harapan kita terutama bagi Ketua Anak Ranting 5 Pom se-Indonesia umumnya dan Ketua Sub Anak Ranting 5 Pom khususnya pembentukan Organisasi Persit Kartika Chandra Kirana Sub Anak Ranting dapat dibentuk dengan segera, mengingat kepentingan dan kegunaan bagi organisasi Persit Kartika Chandra Kirana kedepan. 

Wassalam
Kartini Hadi Santoso

Dialog Kesehatan

Bismillahirrahmanirrahim;

Kini masyarakat sudah terlanjur disuguhi fakta bahwa bila suatu negeri, daerah, masyarakat ingin sehat maka pemerintah negeri tersebut harus membangun rumah sakit mewah dengan fasilitas lengkap Dan itulah yang sementara difahami oleh masyarakat sebagai jalan menuju sehat. Suguhan itu tentu saja memang mahal, bahkan sangat mahal. Kita cenderung melupakan  peribahasa yang telah lama melekat dalam diri masyarakat dan bangsa kita yang mengatakan ; "Kebersihan adalah pangkal kesehatan:".

Ungkapan ini memang sangat singkat, namun maknanya amat mendalam. Sebab kebersihan itu memang merupakan cara yang paling efisien dan efektif untuk tetap sehat. Dengan menggerakkan kembali budaya hidup bersih maka kita akan terhindar dari penyakit. Kebiasaan mencuci tangan, bahan atau peralatan makan lain dengan sabun sebelum makan kelihatannya sepele, namun hal ini mengajarkan kepada kita banyak hal tentang sehat. Begitu pula kebiasaan mencuci tangan sebelum memegang bayi, dst. 

Mengingat pentingnya kesehatan, maka keluarga Denpom V/3 menggelar dialog kesehatan yang bertempat di gedung Aula Persit Kartika Chandra Kirana Denpom V/3 Malang. Hal ini dilakukan untuk mengajak dan mengenal kesehatan kepada para prajurit Denpom V/3 beserta istri bahwa cara  hidup sehat sebenarnya amat murah dan sekaligus kegiatan ini mengajarkan kemandirian  para istri anggota Persit Kartika Chandra Kirana Anak Ranting Denpom V/3 Malang. 


Karena perlu dipahami bahwa pada era sekarang ini kesehatan sangat mahal dimana banyak  air bersih tidak mencukupi, kejadian busung lapar akibat kekurangan pangan, polusi, efek rumah kaca/pemanasan global, tanah longsor, banjir, konflik politik yang berakibat konflik sosial, wabah penyakit, dst. Ini musti melibatkan pemerintah dan lintas sector untuk mengatasinya. Yang ini pasti biayanya mahal. Sehat dengan biaya mahal sebetulnya tidak terlepas dari akumulasi kesehatan menata pembangunan kesehatan negeri. Upaya promotif dan preventif cenderung diabaikan. Hampir semua sumber daya dan dana diorientasikan ke upaya kuratif, membangun rumah sakit dengan biaya tinggi, yang seolah-olah dengan sengaja untuk menunggu rakyat sakit.

Oleh karenanya kegiatan ini bertujuan untuk ; 
1. Meningkatkan kesadaran anggota Persit Denpom V/3 tentang pentingnya upaya preventif  (pencegahan) sebagai jalan menuju sehat yang dapat diterapkan di keluarganya.
2. Meningkatkan kesadaran anggota Persit Denpom V/3 bahwa kesehatan itu adalah bagian dari budaya bangsa.
Setelah terlaksananya acara dialog kesehatan tersebut dilanjutkan dengan pemberian hadiah/ cenderamata bagi para anggota yang telah menerapkan hidup sehat di lingkungan Denpom V/3 Malang yang selanjutnya dilanjutnya dengan acara-acara hiburan.

Sebagai penutup diharapkan dengan adanya kegiatan dialog kesehatan ini, maka para anggota persit Kartika Chandra Kirana di lingkungan Denpom V/3 Malang memiliki wawasan yang cukup tentang kesehatan  terutama bagi keluarganya, sehingga akan lebih bijaksana dalam berbuat sebelum menyesal di kemudian hari. dan selalu berupaya preventif untuk senantiasa hidup sehat.

Wassalam 
Kartini Hadi Santoso

Pembinaan Mental Rohani Denpom V/3 Malang

Bismillahirrahmanirrahim

Seperti diketahui bahwa pembinaan mental di lingkungan TNI merupakan bagian dari pembinaan anggota dengan fungsi dan tugas membina sikap mental personel, sehingga seluruh perilaku setiap anggota TNI merupakan pola perilaku yang berpedoman sesuai dengan nilai-nilai Sapta Marga. Bagi anggota TNI, wujud pembinaan mental dan peranan mental sudah mewarnai jati dirinya, sejak perjuangan merebut, meneggakkan dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yaitu sebagai Prajurit Pejuangan, Prajurit Rakyat dan Prajurit Nasional.  Salah satu upaya agar jati diri TNI tersebut tetap terpelihara ialah melalui pembinaan mental secara sistimatis dan berlanjut, dan bagi anggota persit pembinaan mental dilakukan dalam mewujudkan keharmonisan didalam rumah tangga dan dapat mendukung tugas-tugas suami sebagai prajurit.

Dengan didasari kepentingan diatas, maka Denpom V/3 melakukan pembinaan mental rohani yang  didaya gunakan untuk membentuk, memelihara dan meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai agamanya masing-masing, dan sekaligus kesadaran akan harkat dan martabat manusia dalam kerangka falsafah Pancasila umumnya.  
Metode pembinaan mental yang dilakukan di lingkungan Denpom V/3 kali ini adalah mencakup kemungkinan yang luas, yang pendekatannya perlu dipilih secara cermat yaitu melalui metode ceramah yang dilakukan oleh Dandenpom V/3 selaku komandan yang mempunyai tanggung jawab dalam pembinaan mental anggotanya dan saya selaku istri yang mempunyai kapasitas sebagai Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Anak ranting yang mempunyai tanggung jawab dalam pembinaan mental anggota persit di lingkungan Denpom V/3. Metode ceramah dalam pembinaan mental rohani dipilih dikarenakan dengan menggunakan tehnik metode ceramah yang dititik beratkan pada penyampaian informasi, keterangan, penjelasan atau uraian tentang sesuatu materi atau masalah yang disampaikan secara formal dan lisan diharapkan dapat meningkatkan mental anggota. 

Kegiatan pembinaan mental rohani di lingkungan Denpom V/3 dilaksananakan dengan mendatangkan ustadz untuk memberikan orientasi dalam agama Islam dimana hampir 90% personel Denpom V/3 berserta istri beragama Islam.  Kegiatan ini pun dihadiri oleh personel anggota dari sub-sub denpom yang tersebar di wilayah Jawa Timur. 

     
Materi pembinaan mental rohani yang dilakukan tersebut mencerminkan serangkaian kaidah dan nilai-nilai yang berintikan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME, berikut aneka implikasi dalam kehidupan sosial maupun kehidupan keprajuritan TNI khususnya di lingkungan Denpom V/3 Malang. Materi bintal rohani meliputi :
          1. Peranan agama dalam kehidupan prajurit
          2. Orientasi agama Islam
          3. Kerukunan hidup antar umat beragama.
          4. Petunjuk pembinaan rohani


Setelah bersama-sama melaksanakan pembinaan mental rohani yang disampaikan oleh Komandan maupun Ustadz, maka kegiatan bintal bagi para istri/ anggota persit Denpom V/3 dilanjutkan dengan sholat berjamaah dan dilanjutkan dengan istighosah.



Insya Allah, diharapkan dengan dilakukannya IStighosah bersama ini para istri/ anggota persit Kartika Chandra Kirana Denpom V/3 Malang dapat mendekatkan diri  kepada tuhan. Hati menjadi merasa lebih tentram, nyaman, dan damai. Beban hidup seolah-olah hilang, perasaan was-was dan khawatir juga dapat hilang. Inti dari istighosah adalah mendekatkan diri kepada tuhan. Sehingga tanggung jawab sebagai istri/ ibu kala mendampingi suami bertugas dapat dilaksanakan dengan baik. Insya Allah 

Wassalam 
Kartini Hadi Santoso

Remaja dan AIDS

Minggu, 14 Februari 2010

Bismillahirrahmanirrahim;
Tulisan ini merupakan oleh-oleh bulan lalu sewaktu penulis menghadiri tatap muka dengan Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XIX PUSPOMAD PG MABESAD dengan Ketua Ranting 5 POM se Indonesia di Jakarta. Setelah kegiatan utama selesai, kami pikir iseng masih ada sisa waktu sebelum pulang ke Malang, penulis mengunjungi salah satu keluarga yang berada di Jakarta. Kebetulan ditempat yang sama ada kolega saudara silaturahmi ketempat yang sama dan akhirnya penulis diperkenalkan. Beliau bernama  Rina dan setelah kami bertegur sapa, rupanya ibu ini bekerja di salah satu LSM yang menangani masalah AIDS. Tanpa pikir panjang penulis langsung membuka tas ambil pulpen dan buku, inilah hasil wawancara penulis.
Ny. Hadi : Bisakah dijelaskan apa singkatan dari AIDS?  

Ibu Rina  : (Acquired Immunodeficiency Syndrome) Merupakan kondisi dimana kekebalan tubuh tidak dapat menjalankan fungsinya untuk melawan kuman penyakit yang masuk kedalam tubuh.

Ny. Hadi :
Jika Seseorang yang sudah terkena AIDS apakah lebih mudah terkena penyakit-penyakit lain?
Ibu Rina : Orang yang sudah terkena Penyakit tersebut sangat mudah akan ganguan-gangguan penyakit lain seperti penyakit infeksi yang parah bahkan jenis penyakit kanker tertentu yang tentu saja dapat berakibat buruk

Ny. Hadi  : Apa gejala awal penderita AIDS tersebut?
Ibu Rina : Tingkatan AIDS yang lebih ringan berhubungan dengan beberapa penyakit seperti demam berkepanjangan, pembengkakan kelenjar getah bening (yang biasa terdapat di leher, lipatan di ketiak, lipatan paha, lipatan belakang lutut) lelah berkepanjangan, kehilangan berat badan yang ekstrem dan diare berkepanjangan.

Ny. Hadi  : AIDS disebabkan oleh apa ?
Rina         : AIDS disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus ) yakni virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia seperti di darah, cairan sperma (cairan yang berasal dari alat kelamin laki-laki), cairan Vagina (cairan yang terdapat di alat kelamin perempuan), dan air susu ibu yang sudah kena HIV/AIDS.

Dalam waktu 6-12 minggu setelah terjadinya infeksi, biasanya tubuh seseorang yang telah kena infeksi HIV akan membentuk anti bodi HIV (kekebalan terhadap HIV), masa ini disebut sebagai masa inkubasi/jendela. Sekitar 12 minggu setelah infeksi, virus HIV dapat dideteksi lewat tes darah HIV yang disebut ELISA (Enzymelinked Immunosorbent Assay). Hasil tes yang positif berarti seseorang telah terkena infeksi dan dapat menularkan virusnya kepada orang lain. Sedangkan bila hasil tesnya adalah negatif, berarti mengandung 2 arti, yaitu tidak terdapat virus HIV di dalam tubuhya, ataupun belum dapat terdeteksi karena masih dalam masa jendela/inkubasi sehingga perlu dilakukan tes ulang 3 bulan mendatang untuk memastikanya.

Penularan HIV dapat terjadi lewat :
  1. Hubungan seksual/kelamin yang tidak aman seperti berhubungan badan/berganti-ganti pasangan dengan orang yang sudah kena HIV dan tidak pakai kondom.
  2. Kontak (kena) langsung dengan darah yang sudah kena infeksi HIV.
  3. Pakai jarum suntik bergantian (tidak steril).
  4. Menerima sumbangan darah yang sudah kena infeksi HIV.
  5. Penularan dari ibu yang sudah kena infeksi HIV kepada bayinya baik ketika sedang hamil, waktu melahirkan dan ketika menyusui.
Mengapa remaja berisiko kena infeksi HIV ?
  1. Merasa tidak punya risiko/merasa tidak mudah kena. Remaja dengan karakteristiknya percaya bahwa mereka kebal terhadap penyakit, kecelakaan dan kmatian.
  2. Proses pencarian identitas/Jati Diri. Dalam masa pencarian identitas/jati diri, remaja cenderung ingin mengetahui dan merasakan banyak hal. Bila Orang tua tidak dari awal membekali remajanya dengan informasi/penjelasan yang tepat berkaitan dengan usaha perlindungan diri dari kemunkinan melakukan tindakan-tindakan yang beresiko seperti melakukan hubungan seks, penggunaan jarum suntik narkoba, miras, dan lain-lain, maka remaja tersebut menjadi sangat rentan terhadap infeksi penularan HIV/AIDS.
  3. Hubungan Seksual/Badan/kelamin sebelum waktunya. Dari angka kasus/masalah penyakit kelamin diketahui remaja adalah merupakan kelompok yang memiliki risiko/bahaya terhadap penularan Infeksi Menular Seksual (IMS). Atau yang biasa dikenal sebagai penyakit kelamin yakni penyakit yang ditularkan lewat hubungan seksual..juga banyak data menunjukkan bahwa remaja telah melakukan hubungan kelamin/badan sebelum menikah, dan hanya sedikit sekali yang melindungi dirinya dan pasangan seksnya dengan memakai kondom. Ini mengakibatkan remaja sangat mudah terkena HIV.
  4. Mulai coba-coba mengenal narkoba/Miras. Pengalaman pertama remaja berkenalan dengan narkoba maupun miras biasanya dimulai ketika mereka masih duduk dibangku SMP. Dan banyak ditemukan masalah dimana remaja sudah memakai narkoba dan miras sebelum mereka lulus dari SMA. Dari banyak penelitian ditemukan bahwa remaja pengguna narkoba yang berusia 12-17 tahun juga sudah bisa menggunakan miras. Ketika remaja mulai coba-coba berkenalan dan memakai narkoba, maka kemungkinan besar akan mengarah kepada tindakan perilaku yang berbahaya terkena infeksi HIV.
Remaja yang memiliki perilaku beresiko tinggi.
Kelompok-kelompok yang memiliki perilaku tertentu cenderung lebih mudah tertular infeksi, seperti: Remaja pengguna jarum suntik narkoba, remaja yang berasal dari keluarga penyalahguna narkoba, remaja putus sekolah, remaja tunawisma (tidak punya tempat tinggal), pekerja anak dibawah umur, remaja yang punya infeksi penyakit kelamin, remaja yang telh mengenal dan melakukan hubngan seks/badan yang tidak aman yakni berganti pasangan dengan yang punya penyakit kelamin dan tidak pakai kondom serta remajs pengguna narkoba dan miras. Kelompok remaja seperti inilah yang menjadi jembatan penularan antara orang dewasa yang sudah terkena HIV dengan remaja yang belum terkena infeksi.
Pendidikan bagi Remaja
Sebagai orang tua, kita perlu membekali remaja dengan pendidikan mengenai HIV/AIDS yang terdiri dari :
  1. Apa itu HIV/AIDS
  2. Bagaimana Penularannya
  3. Bagaimana Pencegahannya 
  4. Siapa yang beresiko 
  5. Perilaku apa yang dapat menghindari remaja dari infeksi HIV.
Dibawah ini merupakan rekomendasi yang dapat dilakukan untuk membekali anak-anak tentang HIV :
  1. Awal pendidikan di SD-penjelasan dasar tentang HIV untuk mengurangi ketakutan yang tidak perlu tentang infeksi.
  2. Akhir pendidikan di SD- informasi lebih khusus tentang bagaimana HIV dapat menular dan tidak menular.
  3. SMP/SMA-penjelasan dimodifikasi dengan perilaku yang meningkatkan bahaya kena HIV.
Tantangan pencegahan HIV bagi remaja adalah sama dengan tantangan yang dihadapi untuk mencegah penyakit kelamin dan mengembangkan perilaku gaya hidup yang sehat dimasyarakat umum.
Sangat penting bila remaja dilibatkan bersama orang tua dalam meranvang program pendidikan yang berfokus pada perilaku tindakan peraktis perlindungan diri daripada sekedar menawarkan informasi/penjelasan saja. Program yang berhasil akan membantu remaja mengembangkan keterempilan berkomunikasi, mampu dengan tegas menolak ajakan melakukan tindakan-tindakan/berprilaku yang memiliki resiko terkena penularan HIV. Juga dengan demikian kita dapat menunjukkan kepada remaja bagaimana mendapatkan informasi/penjelasan dan sumber-sumber yang benar. 

Wassalam; 
Kartini Hadi Santoso;

Membina Keterampilan dan Kreativitas Anggota

Senin, 18 Januari 2010

Bismillahirrahmanirrahim; 

Seperti diketahui bahwa pembinaan yang dilakukan didalam lingkungan organisasi Persit Kartika Chandra Kirana saat ini merupakan pembinaan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya.  Didasarkan hal tersebut, maka selaku Ketua Anak Ranting 4 Denpom V/3 Ranting 5 Cabang III PD V/BRW tentunya berupaya untuk meningkatkan   keterampilan anggota dengan mengasah kembali keterampilan dan kreativitas anggota dengan menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan keterampilan yang diberikan dan peralatan yang digunakan.

Pembinaan ini dilakukan pada dasarnya mempunyai tujuan yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan anggota dengan mengoptimalkan keterampilan dan kreativitasnya masing-masing, sehingga dapat menghindari kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai terlebih merugikan bagi keluarga khususnya bagi kepentingan organisasi.

Untuk itulah dengan bermodalkan keinginan dan tekad yang kuat serta dibantu dan didukung oleh Pembina, maka seluruh anggota dan pengurus Anak Ranting 4 Denpom V/3 Ranting 5 Cabang III PD V/BRW yang hingga saat ini Alhamdulillah telah cukup membantu kesejahteraan para anggota walaupun masih jauh dari yang diharapkan. Adapun kreasi dari buah keterampilan para anggota yang dibuat diantaranya :          

Pembuatan Bumbu Pecel





Pembuatan Khordeng

 
 

Walaupun masih jauh dari yang diharapkan, namun dengan adanya pembinaan melalui mengasah kembali keterampilan dan kreativitas dari tiap-tiap anggota. Karena yang paling sulit dan mungkin tantangan yang terberat adalah membina, mengembangkan dan menerapkan kecakapan dan keterampilan anggota untuk lebih berkreasi berdasarkan bakat, minat dan kegemarannya. Sehingga tidak semata-mata karena adanya keterpaksaan yang akhirnya tidak membuahkan hasil apapun.  

Dengan senantiasa terus mencoba dan selalu berusaha memberikan yang terbaik, maka segala rintangan ataupun hambatan yang seringkali dijumpai, Insya Allah perlahan dapat teratasi walaupun terkadang dapat membuat kita kecewa.   Oleh karena itu harapan saya mudah-mudahan tradisi ataupun ciri khas dari pola pembinaan yang ada saat ini mari kita coba untuk lebih memfokuskan kepada kegiatan yang sangat bermanfaat baik untuk diri kita maupun kepada para anggota kita khususnya.

Alhamdulillah;
Kartini Hadi Santoso

Menyampaikan Pesan Lewat Permainan

Minggu, 03 Januari 2010


Bismillahirrahmanirrahim; 

Dalam tahun-tahun belakangan ini telah terjadi pergeseran paradigma dalam pembelajaran ke arah paradigma konstruktivisme. Menurut pandangan ini bahwa pengetahuan tidak begitu saja bisa ditransfer oleh seorang kepada yang lain tetapi yang lebih diharapkan adalah bahwa pembelajaran berpusat pada sejauh mana seseorang mampu menerima pesan dari orang lain. 
Bertitik tolak dari kenyataan tersebut di atas, maka proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan (isi atau materi ajar) dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan.  Penyampaian pesan ini bisa dilakukan melalui simbul-simbul komunikasi berupa simbul-simbul verbal dan non-verbal atau visual, yang selanjutya ditafsirkan oleh penerima pesan . Adakalanya proses penafsiran tersebut berhasil dan terkadang mengalami kegagalan. Kegagalan ini bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya adanya hambatan psikologis (yang menyangkut minat, sikap, kepercayaan, inteligensi, dan pengetahuan), hambatan fisik berupa kelelahan, keterbatasan daya alat indera, dan kondisi kesehatan penerima pesan. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah hambatan kultural (berupa perbedaan adat istiadat, norma-norma sosial, kepercayaan dan nilai-nilai panutan), dan hambatan lingkungan yaitu hambatan yang ditimbulkan oleh situasi dan kondisi keadaan sekitar.
Untuk mengatasi kemungkinan hambatan-hambatan yang terjadi selama proses penafsiran dan agar pembelajaran dapat berlangsung secara efektif, maka sedapat mungkin dalam penyampaian pesan (isi/materi) dibantu dengan menggunakan media pembelajaran yang salah satunya menggunakan simulasi permainan maupun yang lainnya.  Ciri atau karakteristik dari media ini adalah: melibatkan pebelajar secara aktif dalam proses belajar, peran pengajar tidak begitu kelihatan tetapi yang menonjol adalah aktivitas interaksi antar pebelajar, dapat memberikan umpan balik langsung, memungkinkan penerapan konsep-konsep atau peran-peran ke dalam situasi nyata yang ada di lingkungan, memiliki sifat luwes karena dapat dipakai untuk berbagai tujuan pembelajaran dengan mengubah alat dan persoalannya sedikit saja, mampu meningkatkan kemampuan komunikatif pebelajar, mampu mengatasi keterbatasan pebelajar yang sulit belajar dengan metode tradisional, dan dalam penyajiannya mudah dibuat serta diperbanyak.  Diharapkan dengan pemanfaatan sumber belajar berupa media pembelajaran, proses komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih efektif dan efisien. 
Menyampaikan pesan lewat permaianan adalah kegiatan yang sangat dekat dalam berkomunikasi. Kegiatan ini dapat dilakukan secara perorangan, maupun berkelompok. Jenis permainan, jumlah peserta  serta lamanya waktu yang dialokasikan untuk bermain, tergantung pada keingingan serta kesepakatan yang  dibuat oleh para peserta.  Begitu akrabnya kegiatan ini dengan keseharian  kita, sehingga kita kerap menganggapnya sebagai  kegiatan biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Namun,  benarkah demikian?
Dengan memahami arti pentingnya komunikasi saat ini, maka Persit Kartika Chandra Kirana Anak Ranting 4 Denpom V/3 Ranting 5 Cabang III PD V/BRW menyelenggarakan pelatihan komunikasi efektif dan efisien kepada anggotanya melalui penyampaian pesan lewat permainan.  Hal ini penting dilakukan guna melihat sampai sejauh mana tingkat komunikasi yang dimiliki para anggota dalam menyampaikan pesan yang didapat kepadanya.       Penyampaian pesan lewat permainan yang diselenggarakan ini tentunya mempunyai tujuan yang diantaranya :



1. Merangsang Kreativitas kepada para anggota.
Ketika anggota menyampaikan pesan lewat permainan ini, mereka kerap merasakan adanya kejenuhan ataupun rasa bosan. Pada saat seperti inilah mereka biasanya mencoba melakukan sebuah variasi permainan. Disini mereka belajar untuk mengembangkan daya kreatifitas dan imajinasinya. Ide-ide spontan yang dikemukakan oleh seorang anggota, dan jika kemudian diterima oleh anggota yang lainnya, akan menimbulkan adanya rasa penghargaan dari lingkungan serta menjadi motivasi munculnya ide-ide kreatif yang lain.
2. Mengembangkan Wawasan Diri Para Anggota. 
Melalui bermain, seorang anggota dapat mengetahui kemampuan anggota yang lainnya, kemudian membandingkannya dengan kemampuan yang ia miliki. Hal ini memungkinkan terbangunnya konsep diri yang lebih jelas dan pasti. Ia akan berusaha meningkatkan kemampuannya, jika ternyata ia jauh tertinggal dibandingkan anggota yang lainnya. Hal ini menjadi faktor pendorong yang sehat dalam pengembangan diri seorang anggota Persit Kartika Chandra Kirana yang banyak melakukan kegiatan-kegiatan sosial.
 
Harapan saya selaku Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Anak Ranting 4 Denpom V/3 Ranting 5 Cabang III PD V/BRW dari diadakannya kegiatan ini adalah dapat menambah wawasan, keberanian, kesenangan, pengetahuan dan yang paling penting memperkuat tali silaturrahmi kepada para anggota. Dan diharapkan anggota dapat mengetahui bagaimana caranya dan menerapkan kebersamaan, berkonsentrasi penuh serta pengetesan mental.

Kartini Hadi Santoso;